05 April 2020

#HomeLearning : Belajar Matematika dari Kegiatan Menyusun

Rasanya sudah lama sekali ya tidak update blognya Alaric. Sekarang dia sudah berusia 6 tahun lebih satu bulan. Sudah punya adik juga yang tak kalah lucu serta menggemaskan. Tak terasa sebentar lagi Al juga akan segera masuk usia sekolah formal.

Update-update... tahu-tahu kita sedang berada di kondisi yang sangat berat. Wabah Covid-19 ini lumayan berpengaruh terhadap kegiatan pendidikan. Ayah jadi bekerja dari rumah. Pun begitu dengan mama. Alaric dan adiknya juga akhirnya dirumahkan. Praktis semua aktifitas hampir full di rumah. Hikmahnya wabah Covid-19 ini membuat kita akhirnya lebih banyak waktu kumpul keluarga.

Alaric menjalani home learning. Ada beberapa program harian yang dikirim oleh gurunya di sekolah. Beruntungnya sekolahnya Alaric sih bukan tipikal sekolah yang menekankan akademik dan harus mengerjakan macam-macam workbook (LKS) apalagi belajar online. Kegiatan yang dibagikan gurunya lebih berfokus pada Kegiatan bermakna bersama orang tua dan bermain.

Seperti beberapa hari kemarin, Alaric terlibat dalam kegiatan membantu mama. Diantara kegiatannya adalah merapikan rak buku, rak piring, dan rak sepatu. Itu belum termasuk kegiatan rutin seperti jurnal, shalat, dan membaca buku.

Membangun Kemampuan Seriasi dari Merapikan Buku, Piring, dan Sepatu

Sepintas, kegiatan Alaric yang merupakan bagian penugasan dari Sekolah ini lebih terlihat hanya beres-beres saja. Akan tetapi dengan pendampingan bermutu kegiatan di atas membangun banyak kemampuan dasar Matematika seperti klasifikasi dan seriasi (mengurutkan). 

Di pos-pos sebelumnya kalau teman-teman menyimak, dua keterampilan dasar ini sangat penting. Keterampilan seriasi misalnya, merupakan keterampilan dasar anak yang membuat dia mampu membuat skala prioritas. Piaget dalam teori perkembangan kognitifnya menjelaskan bahwa Anak yang memiliki keterampilan mengurutkan benda-benda konkrit di usia dini akan lebih mudah membuat skala urutan prioritas di usia dewasa.

Maka tepat sekali gurunya memberikan penugasan merapikan rak buku, piring, dan sepatu. Alhamdulillah di masa darurat bencana Covid-19 ini Alaric terlibat dalam kegiatan-kegiatan di rumah yang ditugaskan gurunya. Seperti kemarin dia berhasil menyusun buku, piring, dan sepatu berdasarkan ukuran dari kecil ke besar atau sebaliknya. 

Bahkan yang bikin surprise adalah kemampuan logis dan analyticnya juga terbangun ketika sedang merapikan sepatu.

"Mama, sepatu ade di bawah saja. Soalnya kalau di atas, ade nanti ngga nyampe waktu mau ambil."

Pendampingan Kegiatan Menyusun Barang

Kegiatan apapun di rumah pada dasarnya dapat membangun banyak keterampilan berpikir anak dan juga kecerdasannya. Sebagai sekolah yang tidak mengkotak-kotakkan anak, Al-Amanah sekolah dimana Alaric belajar meyakini bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak dapat membangun banyak kecerdasan. Asalkan ada pijakan dan pendampingan bermutu dari orang dewasa.

Beberapa pendampingan dalam kegiatan menyusun barang tersebut diantaranya :
  • Sebelum mulai menyusun, ajak anak mengamati lebih dulu. Mengamati adalah langkah pertama pendekatan saintifik dalam belajar. Dengan mengamati, anak terbangun kemampuan membaca objek yang tinggi seperti membaca ciri-ciri benda. 
  • Pada saat mengamati ayah-bunda bisa bertanya tentang ciri-ciri fisik benda seperti "Ada warna apa saja? Ada berapa macam ukuran? Wah.... Sepatunya milik siapa saja ya? Pertanyaan-pertanyaan di atas membangun pemahaman anak tentang benda dan kempemilikan.
  • Saat mulai menyusun objek, ajak anak membandingkan. Kemampuan membandingkan termasuk keterampilan menganalisis dalam taksonomi bloom dan termasuk high order thinking skills atau keterampilan berpikir tingkat tinggi. Orang tua bisa bertanya : "Mana yang sama ukurannya? Manakah yang berbeda?" lalu anak mulai mengklasifikasi.
  • Jika anak belum mengurutkan dengan benar jangan buru-buru ingin diperbaiki. Ajak anak mengevaluasi mana yang masih perlu diperbaiki. Ajukan pertanyaan : "Menurut kamu, manakah yang urutannya belum pas?" atau bisa juga dengan berkata "Sepertinya mama masih melihat ada yang belum pas. Mari kita cek sama-sama ya". Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi di atas analisis. 
  • Setelah selesai, pastikan kita memberikan apresiasi yang tepat. Hati-hati memberi pujian. Ayah bunda bisa berkata : "Alhamdulillah.... Alaric berhasil menyusun sepatu dari ukuran kecil di sebelah kanan sampai ukuran besar di sebelah kiri". Feedback yang fokus pada pencapaian anak seperti ini lebih membantu dia bahwa usahanya yang kita hargai, ketimbang apresiasi "Hebat.... Anak soleh..... Anak Pintar" yang membuat pemikirannya tentang anak soleh atau anak hebat menjadi bias.
Mungkin hanya itu saja saja yang bisa kami bagikan dari Kegiatan home learning atau pembelajaran di rumah untuk anak TK. Mudah-mudahan bermanfaat ya. Anak belajar banyak hal dari lingkungan lewat pendampingan orang dewasa yang bermutu. 

Selamat mencoba... 😉

03 October 2018

Anak Mogok Sekolah? Ini Dia Solusinya

Pagi tadi setelah bangun tidur, dengan kondisi terkantuk-kantuk Alaric berucap bahwa dia tidak mau ke sekolah hari ini. Sebagai orang tua yang baik, tentunya kita tidak perlu merespon dengan berlebihan untuk hal seperti ini. Apalagi kepada anak usia pra sekolah. Sambil memeluknya Ayah bertanya?

"Ada masalah di sekolah?" tanya ayah.

"Ngga," jawabnya singkat.

"Ayah senang kalau sekolah. Disana bertemu banyak teman. Alaric juga banyak temannya kan di sekolah?"

Dia hanya mengangguk pelan.

"Di sekolah, selain bertemu banyak teman Alaric juga bisa bermasin bersama bu guru. Bu guru kasih pengetahuan yang banyak sekali agar otak kita cerdas," sambung ayah lagi.

"Tapi aku ngga mau sekolah hari ini," katanya lagi.

"Oke kalau memang tidak mau berangkat? Masih ingat aturan kita di rumah?"

Di rumah, kami memang punya kesepakatan. Jika Alaric memutuskan untuk tidak sekolah artinya dia siap belajar sendiri di rumah. Dia tidak punya kesempatan untuk main di luar, hanya membaca buku dan beraktifitas di rumah saja. Kesekapatan ini tentunya kami buat bersama dalam sebuah diskusi diiringi pijakan bahwa sekolah adalah kebutuhan kita semua. Ayah pun yang sudah dewasa tetap butuh belajar dan sekolah (baca : kuliah).

Alaric terdiam. 

"Jadi bagaimana, siap untuk berangkat sekolah?" tanya ayah lagi.

Dia mengangguk. Lalu ayah pun membopongnya ke dapur dan mempersilakannya untuk mandi setelah melepas pakaian.

Masalah clear.

Anak Ngambek Tidak Mau Sekolah (Ilustrasi)

Cari Akar Masalah Anak Mogok Sekolah

Sebenarnya, bukan kali ini saja Alaric ngambek tidak mau sekolah. Beberapa waktu lalu dia juga pernah tidak mau sekolah. Ada-ada saja alasannya. Yang katanya sekolahnya ga seru, snacknya buah terus, sampai capek. Untuk alasan yang terakhir ini sebenarnya sempat menjadi pikiran ayah juga karena jarak rumah dan sekolahnya yang jauh mengharuskan dia berangkat lebih awal bersama ayahnya. Terkadang dalam kondisi masih mengantuk, dia sudah harus mandi lebih pagi, sarapan, lalu melakukan perjalanan kurang lebih 45 menit. 

Di dekat rumah kami ada sekolah islam terpadu sebenarnya. Hanya saja, kami tetap menjaga agar program rumah dan sekolah sama. Itu kenapa meskipun jarak sekolahnya Alaric jauh, tetap kami menyekolahkan di sekolah sekarang yang menerapkan pola pendidikan non direct teahing yang menurut kami efektif membangun kemampuan berpikir anak.

Kembali pada alasan anak mogok sekolah, orang tua memang sudah seharusnya jeli membaca anak. Setiap rengekannya adalah bentuk komunikasi. Kita perlu menggali lebih dalam apakah faktor penyebabnya internal ataukah eksternal. Jika masalahnya dari dalam diri anak misalnya akibat kedekatan terlalu berlebihan dengan orang tua, trust dengan ibunya belum terbangun, ini yang perlu diurus,

Sebaliknya jika faktornya adalah eksternal semisal mainan atau kegiatan di sekolah yang kurang menarik, teman di sekolah ada yang suka merundung (bully), atau guru yang kurang bersahabat, maka hal inilah yang harus diselesaikan.

Bagaimana Solusi untuk Mengatasi Anak Mogok Sekolah?

Satu-satunya cara untuk mengatasi hal ini adalah memastikan anak tetap berangkat ke sekolah. Jika satu kali apalagi sering dibiarkan semaunya untuk tidak sekolah hingga masuk usia sekolah dasar akan merepotkan orang tua sendiri dan semakin sulit membuatnya ke sekolah. Disinilah butuh kesabaran dan kekuatan orang tua. 

Saat anak mengungkapkan perasaannya bahwa 'malas' ke sekolah, sebaiknya orang tua tidak merespon secara negatif. Apalagi sampai mengomeli dan memarahinya. Yang anak butuhkan saat itu adalah motivasi agar dia mau ke sekolah. Bicara dengan lemah lembut. Cari tahu akar masalahnya dimana lalu tuntaskan.

Misalnya saat Alaric ungkapkan bahwa dia bosan main di sekolah. Kami berusaha untuk berkomunikasi dengan guru tentang kegiatan Alaric bahwa anak pra sekolah 3-5 tahun butuh kegiatan fisik yang banyak di pagi hari. Berbeda ketika dia beralasan tentang snack yang itu-itu saja (hanya buah). Kami berikan pijakan manfaat dari kenapa kita harus makan buah. Cerita lagi tentang kenapa Allah ciptakan gigi kita bermacam-macam. Itu adalah salah satu sunnatullah agar kita makan bermacam-macam jenis makanan. Salah satunya adalah gigi seri yang banyak dipakai untuk memotong-motong buah.

Setiap akar masalah, tentu beda solusinya. Orang tua harus cermat dalam membaca anak. Jika sudah temukan akar masalah, jangan segan-segan untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah agar ditemukan solusi yang tepat. Jangan biarkan masalah mogok sekolah ini berkelanjutan. Apalagi sampai ke usia sekolah dasar atau sekolah menengah. Tentuk semakin besar usianya semakin sulit membaca akar masalah dan menemukan solusinya.

Selamat jadi orang tua bermutu
*Tulisan Ayah

19 March 2018

Mengapa Balita Mengalami Mimpi Buruk ?

Beberapa hari terakhir Alaric sering terbangun dan menangis di tengah malam. Kalau kejadiannya di rumah sih ayah dan mama tidak terlalu khawatir. Yang mengkhawatirkan adalah waktu kita menginap di hotel. Tentu muncul perasaan tidak enak dengan tetangga kamar kalau malam-malam begitu Alaric menangis. Takutnya mengganggu tamu lainnya.

Awalnya kami, ayah dan mamanya, mengira dia kecapaian. Tapi kemudian setelah mendengar tangisan dan bicaranya ketika terbangun itu, kami simpulkan kalau Alaric sedang mimpi buruk. Ayah pun menjadi penasaran dan membuka kembali buku tahap perkembangan yang ditulis oleh Robert Chip Wood, Yardstick : Children in The Classroom. Menurut Wood, bermimpi buruk adalah salah satu bagian dari pola perkembangan anak usia 4 tahun. Tentu ini selaras dengan usia Alaric saat ini. 

(Ilustrasi) Balita Mengalami Mimpi Buruk (sumber gambar : mirror.co.uk)

Apa yang Menyebabkan Anak Bermimpi Buruk ?

Mimpi buruk membuat anak-anak merasa takut dan sedih. Inilah yang menyebabkan mereka menangis ketika hal itu terjadi. Mimpi buruk bisa bermacam-macam. Bisa bermimpi tentang hal yang nyata seperti diserang hiu, anjing galak, atau hewan-hewan lain. Bisa juga bermimpi tentang hal yang tidak nyata seperti monster atau hantu. 

Ini hal yang lumrah untuk anak usia 4 tahun karena pada usia ini mereka memang berlebih-lebihan, dan terkadang meanggap monster atau mainan sebagai sesuatu yang nyata. Ayah dan Mama tidak perlu khawatir berlebihan. Kadang-kadang, anak dengan imajinasi yang hidup (tinggi) cenderung lebih sering bermimpi buruk.

Mimpi buruk juga kadang-kadang disebabkan oleh kejadian traumatis. Seperti yang dialami oleh Alaric. Dia pernah bermimpi jatuh dari kendaraan karena memang dia pernah mengalaminya. Kejadian traumatis seperti ini menyebabkan dia memimpikannya beberapa minggu setelah hal itu terjadi.

Jika anak-anak terlalu sering bermimpi buruk, dan berulang-ulang, ini bisa jadi disebabkan oleh stress di siang harinya. Hindari hal ini agar anak tidak mengalami mimpi buruk.

Bagaimana Orang Tua Merespon Mimpi Buruk ?

Setelah mengalami mimpi buruk, anak biasanya ketakutan dan menangis. Yang pastinya mereka butuhkan saat itu adalah rasa nyaman. Terlebih untuk anak-anak usia 4 tahun seperti Alaric. Pelukan dan kecupan ketika dia mengalami mimpi buruk akan membuatnya merasa nyaman.

Respon berikut bisa dilakukan oleh orang tua ketika anak mengalami mimpi buruk :
  • Ketika dia terbangun dari tidurnya yang disebabkan oleh mimpi buruk, setelah memeluk atau mengecupnya, sampaikan kepadanya bahwa itu adalah mimpi buruk. Tambahkan bahwa dia aman karena ada mama atau ayah di sampingnya.
  • Terima anak bermimpi buruk. Maksudnya jangan sekali-kali mengejeknya atau membuat dia merasa tidak nyaman dengan berkata seperti, "Udah, cuman mimpi aja. Tidak usah takut." Biarkan dia merasa bahwa tidak masalah menjadi takut ketika bermimpi buruk. Apalagi untuk anak usia 4 tahun, mimpi buruk terkadang menjadi sesuatu yang nyata bagi mereka.
  • Kadang-kadang anak-anak usia 4 tahun memimpikan sesuatu yang tidak nyata seperti monster. pocong, hantu, dan sejenisnya. Katakan pada mereka bahwa itu semua tidak nyata, dan tidak bisa menyakitinya.
  • Jika esoknya anak menceritakan lagi mimpinya, dengarkan dengan sabar. Jangan sekali-kali mengabaikan atau meremehkannya. Namun jika dia sudah lupa, tak perlu diungkit-ungkit lagi.
  • Ayah dan mama perlu mengecek kegiatan anak di siang hari jika mimpi buruk yang terus terjadi. Apakah anak mengalami stress, kecapaian, mengalami trauma, atau menonton (menyaksikan) hal-hal yang menyeramkan. Hindari anak dari hal-hal seperti itu.
  • Sambil memeluk anak yang mengalami mimpi buruk, bacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tartil dan irama yang teratur. Ini bisa membuat mereka merasa nyaman selain dekapan orang tua.
Selamat mencoba...
Selamat menjadi orang tua bermutu :-)

Regards,
Ayah Said

21 January 2018

Buat Apa Bisa Baca Sejak TK?

Suatu hari #Alaric (3 Tahun 10 Bulan) main bersama dua temannya. Salah satu temannya sudah berusia TK B (5 Tahun) yang bersekolah di sekolah TK pada umumnya yang mengajarkan membaca dan menulis dengan drilling (membaca dengan mengeja ca-ba-ca, dan menyalin huruf maupun kata yang ditulis guru dari atas ke bawah). Temannya ini pun sudah bisa membaca rangkaian huruf.

Di TK Al-Amanah, semua anak TK belajar melalui main. Ya, hanya main saja. Tapi saya akan cerita bedanya 2 anak berbeda usia, berbeda tahap perkembangan membacanya akibat beda cara belajarnya.

Ketiga anak asyik bermain lego hingga temannya Al, Raja, berkata,

"Ini pesawat," sambil menunjuk 2 susunan lego yang memiliki sayap.

"Dimana pesawatnya parkir?" Tanya saya mencoba memberikan pijakan.

Tak ada jawaban. Hingga kemudian Alaric menjawab,

"Ini bandara ceritanya."

"Oh ya. Di bandara memang ada bangunan yang tinggi," jelas saya lagi ingin memberikan penguatan pada susunan vertikal lego berwarna warni yang mereka buat.

"Menara pengawas," jawab Alaric.

Lalu mama mengeluarkan ensiklopedia pesawat dari rak buku. Menaruhnya di atas meja agar teman Alaric bisa membacanya dan membangun bandara dengan 'ilmu'.

"Ada jarak antar pesawat ketika parkir. Apa yang terjadi kalau parkirnya terlalu dekat?" Saya kembali memberi pijakan dengan kontinum pertanyaan.

Sang anak hanya diam, sambil menyusun lego lagi.

Cinta Buku, Cinta Membaca
"Wah, di atas meja ada buku tentang bandara. Raja bisa lihat di buku, bagaimana pesawat parkir di bandara," pijakan yang saya berikan turun ke tahap direct statement.

Raja sepertinya belum tertarik. Padahal saya tahu dia sudah bisa membaca kata-kata yang ada di buku. Yang ada malah Alaric bangkit kemudian mengambil buku ensiklopedia dan membuka lembaran demi lembaran sambil seolah-olah menjelaskan isinya kepada dua temannya, Raja dan Faizs.

"Ini, pesawatnya berjalan di landasan. Sebentar lagi mereka akan terbang," jelas Alaric menunjuk deretan pesawat yang berbaris di runway.

"Dekat bandara ada hotel juga lho. Kita bisa menginap disitu. Aal pernah ya yah menginap di hotel dekat bandara," katanya meminta persetujuan saya.

Saya mengangguk dan tersenyum. Padahal Alaric belum bisa membaca. Dia hanya membaca gambar dan symbol serta merepresentasikannya berdasarkan dirinya sendiri.

Sedangkan Raja masih belum tertarik dengan buku sekalipun sudah bisa membaca. Padahal menurut Christoper-Gordon anak usia 3-4 tahun sudah punya buku favorit yang senang ia baca. Ini lah tahap perkembangan membaca.

Hingga saya teringat curhat orang tua yang anaknya sudah bisa membaca sejak usia TK, tapi sejak SD susah sekali disuruh membaca buku teks (buku paket) yang sudah mahal-mahal dibeli karena kewajiban dari sekolah.

Jadi, apa gunanya bisa membaca sejak TK, jika kelak di usia formal operasionalnya (baca: akil baligh) dia tak tertarik sama sekali dengan buku untuk memperoleh pengetahuan?

22 August 2017

Mengapa Main di Luar itu Penting bagi Anak?

Hari libur seharusnya menjadi hari yang menyenangkan buat keluarga. Apalagi di sekolah ayah mengajar yang liburnya sangat terbatas (tanggal merah atau hari Ahad saja). Itu kenapa hari libur sangat kami manfaatkan untuk berkumpul bersama , berwisata, jalan-jalan, atau bahkan sekedar bergotong royong membersihkan rumah saja.

Ahad (20/8) kemarin Alaric dan ayah jalan-jalan berdua. Harusnya mama juga ikut. Namun berhubung mama sedang mempersiapkan diri karena selama dua pekan kedepan akan bolak-balik ke Cilangkap, Mama memilih di rumah saja.

Main-main air di Curug, bermain sekaligus mencintai Alam
Awalnya, Alaric dan ayah berencana untuk ke Kebun Raya Bogor karena sudah lama tidak kesana. Namun berhubung berangkat dari rumahnya sudah terlalu siang, akhirnya sesampai di stasiun Duri Al dan ayah memilih balik ke Tangerang meski sempat terjadi drama karena ayah harus berdebat dulu sama Alaric dan memberikan alasan yang kuat sampat akhirnya Al menerima keputusan bahwa ayah dan Al pulang saja ke Tangerang. Yang penting keinginan Al naik kereta (yang dia sampaikan malam harinya) sudah tercapai.

Baca Juga : Melatih Bayi Berjalan

Pentingnya Aktivitas di Luar Ruangan

Nah kegiatan jalan-jalan seperti ini adalah salah satu kegiatan anak di luar ruangan. Kegiatan di luar ruangan seperti ini sangat penting untuk anak usia dini, baik itu untuk bayi, balita, maupun anak pra sekolah seperti Alaric.

Menghabiskan waktu di luar rumah dapat memperluas pandangan anak karena memberikan mereka kesempatan untuk menjelajahi lingkungan dan memiliki petualangan. Dengan banyaknya kesempatan berinteraksi dengan alam dan lingkungan, anak menjadi lebih percaya diri.

Bermain di luar juga memungkinkan anak untuk memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan dirinya. Anak bisa berlari, melompat, menendang dan menangkap bola, bersepeda, dan kegiatan fisik lainnya juga tentunya akan memberikan manfaat bagi perkembangan fisik anak.

Alaric sendiri akhir-akhir ini senang diajak lari pagi, senam pemanasan ringan, dan bersepeda. Terlihat dia sangat menikmati paginya dan juga berdampak pada suasana hati yang menyenangkan.

Mengingat banyaknya manfaat dari pentingnya aktivitas bermain di luar ruangan, orang tua harus mempertimbangan sekolah yang tidak memfasilitasi anak dengan kegiatan outdoor. Bahkan dalam sehari anak-anak usia dini harus banyak bermain di luar. Tak cukup satu kali.

Ide Bermain di Luar Rumah yang Jadi Belajar

Piaget dan Sara Smilansky bilang bahwa anak belajar melalui bermain. Oleh karenanya, orang tua harus pandai menjadikan kegiatan anak di luar rumah tidak hanya sekedar main tanpa makna, namun menjadi belajar. 

Akan tetapi kendala orang tua yang tinggal di perumahan dewasa ini adalah lahan yang sempit sebagai tempat bermain anak. Berbeda dengan saat orang tua masih kecil. Banyak lokasi bermain anak di sekitar rumah. Untuk menyiasatinya, pergi ke taman-taman di pusat kota dapat menjadi alternatif piknik berbiaya murah.

Di taman, anak bisa mengendarai sepeda atau scooter, bermain bola,  memanjat atau berlari-lari kecil. Untuk anak usia pra-sekolah seperti Alaric, sangat senang sekali bermain petak umpet. Mereka juga senang merunduk melewati terowongan ban, memanjat pohon tumbang, dan berjalan di atas papan titian.

Memanjar Pohon sangat disenangi Anak
Kegiatan-kegiatan di atas bisa menjadi belajar bagi anak jika pendampingan orang dewasa bermutu. Ketika bermain, orang tua bisa mengalirkan banyak pengetahuan untuk anak. Saat mengendarai sepeda misalnya. orang tua dapat membicarakan tentang gaya dorong dan tarik, berbicara tentang benda yang mudah dan sulit bergerak saat menendang bola, tentang terang dan gelap saat keluar-masuk terowongan, atau tentang kenapa pohon bisa tumbang dan menjadi tua. Pengetahuan-pengetahuan ini mengalir kepada anak saat kondisi otaknya sedang gembira dan pintu sambungan antar sel saraf di otaknya (neurotransmitter) sedang terbuka. 

Kemarin ketika jalan-jalan naik kereta, ada banyak konsep yang bisa dipelajari Alaric. Konsep waktu ketika saya bicara tentang lama perjalanan berangkat dan pulang. Ada juga konsep logis-matematik yakni membandingkan lama perjalanan, banyak orang di kursi dan membandingkannya, dan konsep urutan. Ini belum termasuk konsep bentuk geometri (di kereta maupun rel), konsep sosial (mengapa ada banyak orang bepergian), dan sebagainya.

Beberapa anak juga senang membantu. Ini adalah kesempatan bagi anak untuk main di luar sekaligus belajar banyak hal. Anak bisa diajak menyiangi rumput di halaman, menyiram tanaman, atau mencuci kendaraan. Selain membangun motorik anak, kegiatan seperti ini membangun sosial dan empati anak sekaligus kognitifnya.

Baca Juga : Inilah Perkembangan Motoric Halus Balita 2-3 Tahun

Resiko Bermain di Luar dan Menyiasatinya

Bermain di luar rumah tentu tidak tanpa resiko. Inilah alasan mengapa dibutuhkannya pendampingan orang dewasa (orang tua atau guru) ketika anak diberikan kesempatan bermain di luar. Khawatir wajar, namun jangan sampai kekhawatiran ini justru membatasi kesempatan anak bermain di luar.

Tidak masalah terkadang luka lecet atau memar. Alaric beberapa kali terjatuh saat berlari, terjungkal dari sepeda sehingga lututnya lecet dan keningnya lebam. Justru ini menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menanamkan konsep kepada anak bahwa dirinya punya keterbatasan, belajar dari kesalahan, mengatasi tantangan dan rintangan, sehingga dia menjadi anak yang percaya diri.

Selamat Menjadi Orang Tua Bermutu.....

Regards,
Ayah Said (@bangsaid)